Perbaikan Mutu Lada dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing di Pasar Dunia (3)

NANAN NURDJANNAH 

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian 

Indonesian Center for Agriculture Postharvest Research and Development 

Jln. Tentara Pelajar No.12, Bogor 

 

Masalah dalam Pengolahan Lada Putih 

Indonesia adalah negara penghasil dan pengekspor terbesar dari lada putih yang diikuti oleh Malaysia dan Brazil. Pada tahun 2002 Indonesia mengekpor lada putih sebanyak 12.250 ton, Malaysia sebanyak 843 ton dan Brazil sebanyak 776 ton. Pada tahun 2003 ekspor Indonesia menurun menjadi 10.752 ton, sedangkan ekspor Malaysia naik menjadi 967 ton dan ekspor Brazil menurun menjadi 715 ton (International Pepper Community, 2004c). 

Proses pengolahan lada putih dilakukan di tingkat petani, prosesnya meliputi perendaman, pencucian dan pemisahan kulit, pengeringan, sortasi dan pengemasan. Untuk memproduksi lada putih pemetikan buah dilakukan 8 – 9 bulan setelah bunga muncul dengan ditandai sebagian buah pada pangkal tandan sudah berwarna kuning kemerahan. Setelah dipetik buah lada berikut tandannya dimasukkan ke dalam karung goni atau plastik siap untuk direndam. 

Perendaman biasa dilakukan di sungai-sungai kecil yang mengalir atau di Bangka biasa dilakukan di dalam kolong (cekungan yang terbentuk akibat penggalian timah) yang memakan waktu 8 sampai 12 hari. Lamanya perendaman lada tergantung dari kemasakan buah dan keadaan lingkungan seperti, banyaknya air dan lain-lain. Semakin matang buah lada semakin pendek waktu perendaman. 

Pada perendaman buah lada tersebut terjadi pembusukan kulit luar oleh bakteri sehingga kulit tersebut mudah dipisahkan dari bijinya. Perendaman yang lama menyebabkan timbulnya bau busuk yang biasanya masih terbawa pada lada putih kering, terutama bila perendaman tersebut dilakukan dalam air yang tidak mengalir. 

Setelah perendaman dilakukan pengupasan kulit dan pencucian. Hal ini dilakukan pada tempat yang sama di mana lada tersebut direndam. Pengupasan dilakukan dengan cara meremas-remas atau menginjak-injak buah lada yang kulitnya sudah lunak tersebut. Setelah terkelupas kulit luarnya kemudian dicuci dan dikeringkan. Pengeringan dilakukan dengan menghamparkan lada yang sudah terkupas dan bersih di atas tikar atau karung goni atau plastik dan dijemur selama 3 sampai 5 hari sampai kering. Pengeringan tersebut dilakukan di halaman rumah atau di pinggir jalan. Setelah kering dilakukan sortasi dengan cara menampi lada yang sudah kering tersebut sehingga bagian yang ringannya terpisah. Sortasi hanya dilakukan oleh sebagian petani saja. Kemudian lada putih dikemas dengan karung goni atau plastik dan disimpan siap untuk dijual (Nurdjannah, 1999b). 

Read morePerbaikan Mutu Lada dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing di Pasar Dunia (3)

Perbaikan Mutu Lada dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing di Pasar Dunia (2)

NANAN NURDJANNAH

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian

Indonesian Center for Agriculture Postharvest Research and Development

Jln. Tentara Pelajar No.12, Bogor

 

Masalah pada Pengolahan Lada Hitam 

Pada dasarnya pengolahan lada hitam dapat dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap perontokan (pemisahan buah lada dari tangkainya) dan tahap pengeringan. Pemisahan buah lada dari tangkai masih dilakukan secara manual yaitu dengan tangan atau diinjak-injak dengan kaki. Untuk pengeringan sebagian petani masih melakukannya di atas tikar yang diletakkan dipinggir jalan atau di halaman rumah. Namun demikian sebagian petani sudah melakukan penjemuran di atas lantai yang terbuat dari semen. Setelah kering proses sortasi dilakukan dengan pengayakan atau penampian. Sebagian petani sudah melakukan sortasi dengan menggunakan alat sortasi walaupun sangat sederhana. 

Cara-cara tersebut di atas memungkinkan terjadinya kontaminasi pada lada hitam yang dihasilkan, berupa debu, tanah, batu-batu kecil, rambut dan kotoran hewan peliharaan. Selain itu cara-cara di atas dapat menyebabkan terjadinya pencemaran oleh mikroorganisme yang tidak diinginkan. Tidak dilakukannya sortasi lada kering atau sortasi yang dilakukan dengan cara sederhana menyebabkan produk masih banyak mengandung bahan-bahan asing seperti tangkai, lada enteng (lada yang tidak bernas), dan lain-lain. Faktor lain yang menentukan mutu lada adalah tingkat kematangan buah lada. Petani sering melakukan pemetikan buah lada tidak pada waktu yang tepat. 

Selain faktor di atas, cara pengolahan kurang efisien, menyebabkan banyak lada yang tercecer, terkupas, kadar kotoran tinggi, lada hitam berwarna kecoklatan, ukuran yang kurang seragam dan aroma yang kurang tajam. 

Di tingkat eksportir, lada yang dihasilkan oleh petani biasanya diolah kembali untuk mendapatkan lada hitam mutu FAQ atau ASTA. Proses tersebut terdiri dari pengayakan dan hembusan untuk memisahkan lada hitam bernas dari lada enteng dan menir serta debu, kemudian dilanjutkan dengan pencucian dan pengeringan kembali. Proses tersebut dilakukan dengan mesin. 

Untuk memperbaiki mutu lada hitam yang sudah terkontaminasi oleh mikroba di Lampung telah ada unit sterilisasi dengan menggunakan uap. Proses stetrilisasi hanya dilakukan atas permintaan importir. 

Read morePerbaikan Mutu Lada dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing di Pasar Dunia (2)

Perbaikan Mutu Lada dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing di Pasar Dunia (1)

NANAN NURDJANNAH

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian

Indonesian Center for Agriculture Postharvest Research and Development

Jln. Tentara Pelajar No.12, Bogor

 

PENDAHULUAN

Lada merupakan salah satu jenis rempah yang cukup penting baik ditinjau dari peranannya sebagai penyumbang devisa negara maupun kegunaannya yang khas dan tidak dapat digantikan jenis rempah lainnya. Indonesia merupakan salah satu produsen lada terbesar di dunia, dan komoditas lada tersebut sebagian besar diekspor dalam bentuk lada hitam dan lada putih serta dalam jumlah kecil dalam bentuk lada bubuk dan minyak lada. Di pasar dunia lada hitam Indonesia dikenal dengan nama “Lampung black pepper” dan lada putihnya dikenal sebagai “Muntok white pepper”

Persaingan komoditas lada di pasar dunia pada saat ini semakin kompetitif karena besarnya penawaran relatif seimbang dengan permintaan. Selain itu persyaratan yang diminta negara-negara konsumen semakin ketat terutama dalam hal jaminan mutu, aspek kebersihan dan kesehatan. Hanya komoditas yang aman, sehat, dan memiliki daya saing yang kuat terutama dari segi mutu dan harga yang akan berpeluang meraih pasar. Meningkatnya kepedulian negaranegara konsumen terhadap keamanan produk pangan termasuk rempah akan menyebabkan kendala dalam ekspor. Di samping itu muncul negara-negara penghasil lada baru yang menaikkan produksi dengan cepat terutama Vietnam. Pada tahun 1999 produksi lada Indonesia sebanyak 44.500 ton, sedangkan Vietnam 30.000 ton. Namun pada tahun 2003 produksi lada Indonesia 67.000 ton, sedangkan Vietnam 85.000 ton (International Pepper Community, 2004a). 

Kontaminasi mikroorganisme merupakan salah satu issue terutama dalam keamanan produk (pangan) selain kontaminasi aflatoksin dan residu pestisida. Menurut Anonymous (2004a), selama Agustus 2003 sampai Juli 2004, ada 83 pengiriman lada dari berbagai negara yang mengalami penahanan (detained) oleh USFDA (US Food and Drug Administration), 62,7% disebabkan karena adanya Salmonella, 31,3% karena adanya Salmonella dan kotoran, 3,6% karena adanya kotoran dan 2,4% karena sebab-sebab lain seperti pemberian label yang kurang jelas. Dari data di atas jelas 94% lada yang ditahan oleh USFDA adalah karena adanya Salmonella. 

Read morePerbaikan Mutu Lada dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing di Pasar Dunia (1)

BRI MARKET INFO AS PER 20 FEBRUARY 2017

Assalamualaikum Wr. Wb., Selamat pagi, Salam sejahtera, Selamat beraktivitas,

 Berikut ini informasi pasar Senin 20 Februari 2017:

Nilai tukar mata uang di pembukaan hari ini:

USD : 13.345/55

EUR : 14.150/75

GBP : 16.560/85

AUD : 10.230/55

SGD : 9.404/20

CNY : 1.943,41/45,00

 

Nilai Tukar Rupiah

Pada hari Jumat (17/2) Rupiah diperdagangkan pada level 13,325 – 13,335, pada akhir sesi perdagangan Rupiah ditutup melemah terhadap USD dibanding penutupan hari sebelumnya di level 13,332 (prior 13,320). 

Melemahnya nilai tukar Rupiah ini disebabkan oleh rilis beberapa data ekonomi mingguan Amerika pada Jumat (17/2) yang menjukkan peningkatan sehingga memberikan sentiment positif bagi pergerakan mata uang USD. Membaiknya angka inflasi, retail sales, izin bangunan hingga klaim pengangguran mingguan menjadi tenaga bagi USD untuk menguat terhadap beberapa mata uang utama lainnya termasuk Rupiah.

Rupiah terhadap Dollar US pada Senin (20/02) diprediksi akan diperdagangkan pada range 13,315 - 13,345. Tutupnya market Amerika pada hari ini dapat memberikan kesempatan bagi Rupiah untuk berbalik arah. Namun demikian potensi tekanan terhadap Rupiah pada minggu ini masih bisa berlanjut seiring tingginya permintaan USD menjelang akhir bulan untuk memenuhi kebutuhan pelunasan utang luar negeri korporasi dan pemerintah. Selain itu, minimnya rilis data ekonomi domestik pada pekan ini juga akan membuat Rupiah akan sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar USD di pasar.

Read moreBRI MARKET INFO AS PER 20 FEBRUARY 2017

BRI MARKET INFO AS PER 14 FEBRUARY 2017

Assalamualaikum wr. Wb. Salam sejahtera, Selamat pagi, Selamat beraktivitas 

Berikut ini informasi pasar pada pembukaan hari Selasa 14 Februari 2017

USD : 13.310/20

EUR : 14.102/30

GBP : 16.665/95

AUD : 10.200/25

SGD : 9358/78

Read moreBRI MARKET INFO AS PER 14 FEBRUARY 2017

Serai Wangi, Tanaman Penghasil Atsiri Yang Potensial

Minyak atsiri merupakan minyak terbang (volatile), hasil metabolit sekunder dalam tumbuhan. Dapat ditemukan di akar, kulit batang, daun, bunga dan bji. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak atsiri yang terbesar di dunia terdapat 40 jenis minyak atsiri yang sudah dikenal, 20 diantaranya adalah minyak potensial yang telah berkembang di pasar serta bernilai ekonomi tinggi. Sementara, masih terdapat sumber-sumber minyak atsiri baru yang terus digali agar beprospek bagi pengguna. Hai ini didukung juga  oleh adanya ketersediaan lahan di Indonesia. Salah satu contoh minyak atsiri sangat menjajikan yaitu sereh wangi.

Serai wangi (Cymbopogon nardus. L) merupakan salah satu jenis tanaman minyak atsiri, yang tergolong sudah berkembang. Dari hasil penyulingan daunnya diperoleh minyak serai wangi yang dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama Citronella Oil. Minyak serai wangi Indonesia dipasaran dunia terkenal dengan nama “Citronella Oil of Java”. Volume ekspor minyak serai wangi beberapa tahun terakhir mengalami penurunan, Pada tahun 2002 mencapai 142 ton dengan nilai 1.066.000 US $ dan pada tahun 2004 sebesar 114 ton dengan nilai ekspor sebesar 700.000 US $ (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2006).

Peranan komoditas ini sangat  besar sebagai sumber devisa dan pendapatan petani serta penyerapan tenaga kerja. Produksi minyak serai wangi di Indonesia dihasilkan dari Nangroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, Jawa Timur dan Lampung dengan total luas areal seluruh Indonesia pada tahun 2004 mencapai 3492 hektar. (Direktorat Jenderal Perkebunan,2006). Minyak serai wangi diperoleh dari tanaman serai wangi yang mengandung senyawa sitronellal sekitar 32 - 45%, geraniol 10 - 12%, sitronellol 11 - 15%, geranil asetat 3 - 8%, sitronellal asetat 2 - 4% dan sedikit me-ngandung seskuiterpen serta senyawa lainnya (Masada, 1976). Sereh wangi adalah salah satu komoditi atsiri yang sangat prospektif. Permintaan minyak sereh wangi cukup tinggi dan harganya stabil serta cenderung meningkat. Uniknya pembudidayaanya tidak terlalu rumit serta tanaman ini dapat hidup di lahan-lahan marginal bahkan lahan bekas tambang.

Read moreSerai Wangi, Tanaman Penghasil Atsiri Yang Potensial