Kualitas Pala Asal Indonesia Terbaik di Dunia

Liputan6.com, Siau - Indonesia dikaruniai sumber daya alam yang begitu melimpah, termasuk rempah-rempah yang berguna menambah cita rasa dan aroma pada masakan. Sementara di belahan dunia lain, ia berguna menghangatkan badan di tengah musim salju yang membekukan raga. Tak heran, di masa lalu, para penjelajah dan pedagang dari Eropa berdatangan ke Nusantara dan menjadikan wilayah "zamrud khatulistiwa" sebagai koloninya: Portugis, Spanyol, dan Belanda -- yang melabeli wilayah Tanah Air sebagai "Hindia Belanda". 

Selain lada, komoditas yang menjadi incaran Bangsa Eropa adalah pala (nutmeg). Akibat sejarah eksplorasi rempah-rempah di masa lalu, Indonesia berkembang jadi salah satu wilayah tujuan perdagangan global. Hingga kini, kepopuleran tanaman pala asal Indonesia tidak luntur. Bahkan, selalu ada permintaan pala asal Indonesia untuk dikirim ke negara-negara luar, khususnya Eropa.

Kepala Kerjasama Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam, dan ASEAN, Franck Viault, menuturkan bahwa pala bahkan memainkan peran penting dalam perdagangan bilateral antara Indonesia dan Uni Eropa. "Tanaman pala merupakan rempah-rempah yang digunakan di seluruh dunia, termasuk di Benua Eropa," ucap Viault kepada Liputan6.com beberapa waktu lalu.

"(Tanaman pala) ini punya sejarah yang sangat panjang dan terkait dengan era penjajahan serta sejarah awal pembangunan ekonomi dunia," sambung dia. Pria asal Prancis itu menambahkan, pala adalah salah satu komoditi penting di Eropa. Tak hanya digunakan untuk memasak tapi juga dalam industri lain, seperti kosmetik dan kesehatan. "Hampir semua negara di Eropa seperti Jerman dan Italia mengimpor pala dari Indonesia. Anda bisa menemukan pala di hampir seluruh dapur warga Eropa," sebutnya. Oleh sebab itu, Uni Eropa mengharapkan Indonesia tetap memproduksi pala dengan kualitas terbaik. Sebab, permintaan rempah-rempah jenis ini di waktu mendatang tidak akan pernah surut. "Indonesia merupakan produsen pala terbesar di dunia dan eksportir terbesar untuk pasar Eropa," ucap Viault. "Jadi secara alami di masa depan, tidak ada alasan bagi Eropa untuk mengurangi permintaan tanaman pala dari Indonesia," pungkas Viault.

 

Komoditas Unggulan 'Siau Nutmeg'

 

Pulau Siau yang terletak di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Provinsi Sulawesi Utara, adalah salah satu penghasil tanaman pala terbaik. Tak hanya di Indonesia, komoditas yang diberi nama dalam Bahasa Inggris sebagai 'siau nutmeg' juga tersohor di dunia. Perwakilan dari Kementerian Perdagangan dan Delegasi Uni Eropa di Indonesia melakukan lawatan resmi ke Siau sebagai implementasi program dukungan, Trade Support Programme II.  Kunjungan selama 2 hari dimanfaatkan untuk bertemu para petani pala lokal. Sejumlah petani mengeluhkan soal harga pala yang merosot. Kondisi itu sungguh menyiksa mereka, sebab, pala sudah menjadi lahan mereka hidup dan mencari makan.

Menanggapi keluhan tersebut, Direktur Standarisasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendag), Frida Adiati, angkat bicara. Dia mengatakan masalah ini muncul akibat adanya persaingan pala dari beberapa tempat lain di luar Indonesia. "Sebenarnya saya berpikir masalah penurunan harga pala adalah sesuatu masalah klasik, sebenarnya normal, karena ada pasokan pala dari tempat lain di dunia," sebut Frida kepada Liputan6.com beberapa waktu lalu. Namun, ekspor pala dari Indonesia, kata dia, menunjukkan tren positif. Selama lima tahun terakhir peningkatan sebanyak 5%. Tapi tentu saja, jika Anda melihat dan menilai melalui volume ekspor, ya itu menurun," sebutnya. Menambahkan pernyataan dari Frida, Kepala Kerjasama Uni Eropa dengan Indonesia, Brunei Darussalam, dan ASEAN, Franck Viault, menyebut ada beberapa masalah yang menyebabkan harga pala dari Siau turun. Selain adanya pesaing, ditemukannya aflatoxin (jamur) dalam komoditas tersebut.

"Kualitas pala tidak hanya ditentukan ukuran, aroma, atau sekering apa pala itu. Yang paling penting adalah (pala) tidak boleh mengandung aflatoxin," jelas Viault. Dia menekankan, untuk warga Eropa standar kualitas sangat penting. Oleh karenanya, Uni Eropa mendorong agar petani pala siau dapat memproduksi pala tanpa ada aflatoxin. "Bagi kami, sangat penting melindungi kesehatan konsumen. Itu mengapa kami menerapkan standar yang begitu tinggi," pungkas dia. (Ein/Tnt)