MERETAS KEMBALI KEJAYAAN "POHON KEHIDUPAN"

 

Pohon Kelapa (Cocos nucifera) adalah salah satu komoditas perkebunan yang multifungsi karena dapat dimanfaatan seluruh bagian-bagiannya. Oleh karena itu, pohon ini dijuluki sebagai pohon kehidupan (the trees of life). Selama ini, komoditas kelapa dominan dimanfaatkan sebagai produk primer, baik dalam bentuk kelapa segar maupun kopra untuk bahan baku minyak goreng. Pengembangan dan pemanfaatan produk hilir kelapa sampai saat ini masih terbatas pengembangannya, demikian pula dengan pemanfaatan hasil samping. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional, 2008 – 2012, penduduk Indonesia mengkonsumsi produk turunan kelapa berupa minyak kelapa, minyak goreng dan kelapa butiran. Tren konsumsi masyarakat Indonesia terhadap produk turunan kelapa paling banyak adalah minyak goreng. Minyak kelapa murni (VCO) dikonsumsi oleh masyarakat sebagai obat, sedangkan konsumsi kelapa dalam bentuk butiran pada umumnya adalah kelapa muda.  

Luas areal tanaman kelapa di Indonesia tahun 2015 ialah 3.621.517 Ha, didominasi oleh Perkebunan Rakyat (PR) seluas 3.583.130 Ha, Perkebunan Besar Negara seluas 3.887 ha (0,13 %)  dan Perkebunan Besar Swasta seluas 34.500 ha (1,65 %). Total produksi produk turunan kelapa dalam bentuk kopra tahun 2015 sebesar 3.025.011 Ton. Luas areal dan produksi kelapa Indonesia sejak selama lima tahun terakhir menunjukkan adanya penurunan. Penurunan tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 1. Luas Areal dan Produksi Kelapa Indonesia Tahun 2011 – 2015

Tahun

Luas Areal

(Ha)

Produksi (Kopra)

(Ton)

2011

3.767.704

3.174.378

2012

3.781.649

3.189.897

2013

3.654.478

3.051.585

2014

3.631.814

3.031.310

2015

3.621.517

3.125.011

Sumber: Statitistik Perkebunan Indonesia, Kelapa, 2012-2015, Ditjen Perkebunan

 

Ketidakseimbangan antara Permintaan dan Penawaran

Sentra-sentra tanaman kelapa di Indonesia tersebar antara lain di Provinsi Riau, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Penurunan luas areal dan juga poduksi kelapa dari tahun ke tahun salah satunya disebabkan karena banyak pohon kelapa yang sudah tua dan pada akhirnya ditebang. “Pohon kehidupan” saat ini sedang mengadapi beberapa tantangan antara lain ketidakseimbangan antara permintaan dan produksinya. Berdasarkan data Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI), total kebutuhan kelapa secara nasional pada 2015 sebanyak 14,63 miliar butir kelapa atau senilai 3,53 miliar dolar Amerika Serikat. Sebanyak 1,53 miliar butir kelapa atau 10 persen untuk konsumsi rumah tangga, 3,5 mliar butir atau 24 persen untuk pasar ekspor, dan selebihnya dipergunakan untuk bahan baku industri pengolahan. Ironisnya banyak kelapa butiran dari Indonesia diekspor ke luar negeri. Negara tujuan ekspor kelapa dan produk turunannya antara lain adalah Belanda, Tiongkok, Amerika Serikat dan Malaysia (https://m.tempo.co/read/news/2016/05/23/090773429/permintaan-dunia-tinggi-mendag-produksi-kelapa-harus-naik).   

Rata-rata produksi kelapa per tahun diperkirakan 12,9 miliar butir kelapa. Tinggginya permintaan akan kelapa beserta produk turunannya memacu kenaikan harga kelapa, serta mengakibatkan kelangkaan kelapa di pasar. Dengan kelangkaan kelapa ini, tingkat utilitas pabrik dissicated coconut saat ini hanya 35%-45% sehingga produksi turun 8% dari 2015. Sementara, pabrik minyak kelapa (coconut oil/CNO) hanya memiliki tingkat utilitas sebesar 51%-52% serta produksi terpangkas menjadi 15% (http://agro.kemenperin.go.id/4005-Pasokan-Terbatas.-Utilitas-Pabrik-Olahan-Kelapa-Menyusut). Himpunan Pengusaha Kelapa Indonesia (HIPKI) mencatat Tahun 2016, sekitar 2,2 miliar-2,3 miliar butir kelapa diekspor ke berbagai Negara, sementara tahun 2015 sebesar 2,5 miliar butir.  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor minyak kelapa menurun pada tahun 2016 sebebsar 30,78% year-on-year dalam periode Januari-Juli 2016 menjadi US$613,13 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai US$885,72 juta (www.bps.go.id).

Sebuah Tantangan

Adalah sebuah tantangan untuk menyelesaikan masalah kelangkaan kelapa. Penyelesaian masalah ini sertidaknya harus mengintegrasikan aspek hulu dan hilir, mengingat kondisi tanama kelapa yang ada di Indonesia saat ini mulai tua dan banyak yang rusak. Penerapan cara budidaya tanaman dengan baik (Good Agriculture Practices) dan konsisten menjadi kunci dalam upaya meningkatkan produktiitas kelapa di Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa produktivitas kelapa di Indonesia masih berada dibawah produktivitas yang semestinya. Saat ini produktivitas kelapa rata-rata 1 ton/hektar, setara dengan 60% dari produktivitas semestinya. Rendahnya produktivitas ini disebabkan karena penanganan budidaya tanaman yang kurang baik. Rata-rata petani belum menerapkan cara budidaya tanaman yang baik antara lain masih digunankannya benih asalan yang belum bersertifikat serta pemupukan yang kurang atau tidak dilakukan. (Abner dan Pasang, 2013).

Dalam upaya meningkatkan pendapatan petani, dapat dilakukan pemanfaatan lahan disela diantara tanaman. Dalam aspek budidaya tanaman, jara tanam yang semula  6m x 6m, telah diperbaharui menjadi 9m x 12m. Hal ini merupakan upaya agar lahan sela dapat ditanami dengan tanaman berumur pendek atau tanaman pangan, misalnya jagung. (Abner dan Pasangm 2013). Dengan diterapkannya cara budidaya tanaman yang baik, diharapkan produktivitas kebun kelapa akan meningkat.

Pada aspek hilir, penting dilakukan peningkatan nilai tambah dan daya saing kelapa yang diproduksi Indonesia, mengingat banyak kelapa yang diekspor dalam bentuk butiran. Diversifikasi produk turunan kelapa dengn teknologi agro industri yang tepat guna dan dapat dimanfaatkan oleh petani untuk meningkatkan varian produk yang dihasilkan. Rata-rata petani kelapa saat ini mempriduksi kopra (hitam), minyak kelapa dan VCO, padahal di sisi lain dengan teknologi pengolahan, kelapa dapat diubah menjadi banyak produk yang lebih bernilai. Teknologi untuk agroindustri merupakan  pengubahan kimia, biokimia dan/atau fisik pada hasil pertanian menjadi produk, dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Produk agroindustri ini, dapat merupakan produk akhir yang siap digunakan oleh manusia  ataupun produk yang merupakan bahan baku industri lain (Mangunwidjaja dan Sailah, 2008).

Diversifikasi produk kelapa tidak akan dapat terlaksana dengan optimal apabila kelembagaan petani masih lemah. &nnbsp;Aspek kelembagaan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan posisi tawar (bargaining position) petani, hal ini disebabkan karena pasar kelapa merupakan pasar monopsoni (jumlah pembeli lebih sedikit dari penjual). Tanpa adanya persatuan petani kelapa dalam satu wadah organisasi, maka pembeli akan dengan mudah mempermainkan harga, dengan alasan pembeli akan dengan mudah membeli dari tempat yang harganya lebih murah.  (Abner dan M. Pasang, 2013).

Kiranya kelapa yang dijuluki sebagai pohon kehidupan akan dapat bersanding dengan eksistensinya dengan kelapa sawit dengan penanganan yang sungguh-sunggun aspek hulu hingga hilir sehinggga kembali mencapai kejayaan seperti pada periode 1960-1970an, pada masa itu usaha kopra dirasakan sebagai usaha yang sangat menguntungkan. Bahkan koperasi kopra merupakan salah satu koperasi yang sangat berkembang dan menjadi organisasi andalan bagi para petani kelapa pada masa itu (HNY).

(diambil dari: http://ditjenbun.pertanian.go.id/pascapanen)

 

DAFTAR PUSTAKA

Ditjen Perkebunan, Pedoman Teknis Pascapanen Kelapa, Jakarta, 2011

Lay Abner Dan Patrik M. Pasang, Strategi Dan Implementasi Pengembangan Produk Kelapa Masa Depan,  Manado, 2013

Irawadi, D. 2000. Kontribusi teknologi proses dalam pembangunan agroindustri perkebunan menuju otonomi daerah. Ekspose Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan. 20 November 2000, Jakarta.

Ulrich, K.T. dan S.D. Eppinger.  2001.  Product design and development (Perancangan dan pengembangan produk).  Diterjemahkan oleh N. Azmi dan I.A. Marie.  Penerbit Salemba Teknika, Jakarta.